Kaya Pahala Tak Harus Kaya Harta

ibadahAdalah Abu Dzar seorang sahabat Rasulullah SAW yang hidup zuhud dan sederhana. Perjalanan hidupnya menginspirasi banyak orang. Bagaimana tidak? Sebelum menjadi sahabat rasul, ia menjalani kehidupan kelam, menjadi seorang begal yang ditakuti. Namun, Islam merubah total jalan hidupnya.

Kesederhanaan hidupbaginya tidak boleh menjadi rintangan untuk mendapatkan prestasi ibadah dan meraih ketinggian iman. Bahkan hidup seperti ini (zuhd) adalah menjadi fenomena umum para sahabat, seperti yang digambarkan Ibnu Mas’ud ra berikut ini..

عَنِ ابْنِ مَسْعُودٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: ” أَنْتُمْ أَطْوَلُ جِهَادًا، وَأَكْثَرُ صَلَاةً مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَكَانُوا خَيْرًا مِنْكُمْ، قَالُوا: وَلِمَ؟ قَالَ: «كَانُوا أَزْهَدَ فِي الدُّنْيَا وَأَرْغَبَ فِي الْآخِرَةِ مِنْكُمْ»

Dari Ibnu Mas’udra. Ia berkata: “Kalian (para tabi’in), lebih lama berjihad dan lebih banyak shalatnya dari para sahabat Rasulullah saw. Namun, mereka tetap lebih baik dari kalian. Para tabi’in bertanya: “Kenapa demikian?”. “Mereka lebih zuhud terhadap dunia dan lebih cinta terhadap akherat dari pada kalian.”

Kesederhanaan hidup para sahabat telah berhasil melejitkan potensi ibadah mereka. Tapi mereka tidak ingin berhenti sampai disitu; tidak ingin merasa puas dengan prestasi yang telah diukir. Dan keinginan kuat untuk meraup pahala yang besar pun tak dapat dibendung. Maka saat sebagian sahabat yang Allah berikan kelebihan rizki dapat berbagi sedekah dan meraup pahala hasil “jual beli” mereka dengan Allah, sahabat yang bernasib lain bersedih. Bentuk iri yang positif dan diperbolehkan seperti yang disabdakan Rosulullah saw.

“Tidak boleh hasud (ghibtoh) kecuali pada dua orang, yaitu orang yang Allah anugerahkan padanya harta lalu ia infakkan pada jalan kebaikan dan orang yang Allah beri karunia ilmu (Alquran dan As Sunnah), ia menunaikan dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Menyoal peluang ibadah yang tak bisa mereka gapai karena kondisi kantong yang tidak mendukung mendorong mereka mengadukan nasibnya kepada Rasulullah. Abu Dzar ra menyampaikan apa yang terjadi pada sebagian para sahabat, seperti yang beliau tuturkan berikut ini

عَنْ أَبِـيْ ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ ، أَنَّ نَاسًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالُوْا لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللّٰـهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا رَسُوْلَ اللّٰـهِ ! ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُوْرِ بِاْلأُجُوْرِ ؛ يُصَلُّوْنَ كَمَـا نُصَلِّـيْ ، وَيَصُوْمُوْنَ كَمَـا نَصُوْمُ ، وَيَتَصَدَّقُوْنَ بِفُضُوْلِ أَمْوَالِـهِمْ. قَالَ : «أَوَلَيْسَ قَدْ جَعَلَ اللّٰـهُ لَكُمْ مَا تَصَدَّقُوْنَ ؟ إِنَّ بِكُلِّ تَسْبِيْحَةٍ صَدَقَةً ، وَكُلِّ تَكْبِيْرَةٍ صَدَقَةً ، وَكُلِّ تَـحْمِيْدَةٍ صَدَقَةً ، وَكُلِّ تَهْلِيْلَةٍ صَدَقَةً ، وَأَمْرٌ بِالْـمَعْرُوْفِ صَدَقَةٌ ، وَنَهْيٌ عَنْ مُنْكَرٍ صَدَقَةٌ ، وَفِـيْ بُضْعِ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ». قَالُوْا : يَا رَسُوْلَ اللّٰـهِ ! أَيَأْتِـيْ أَحَدُنَا شَهْوَتَهُ وَيَكُوْنُ لَهُ فِيْهَا أَجْرٌ ؟ قَالَ : «أَرَيْتُمْ لَوْ وَضَعَهَا فِـي حَرَامٍ، أَكَانَ عَلَيْهِ فِيْهَا وِزْرٌ ؟ فَكَذٰلِكَ إِذَا وَضَعَهَا فِـي الْـحَلاَلِ كَانَ لَهُ أَجْرًا»

Dari Abu Dzar Radhiyallahuanhu bahwa beberapa orang dari Sahabat berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihiwasallam : “Wahai Rasulullah! Orang-orang kaya telah pergi dengan membawa banyak pahala. Mereka shalat seperti kami shalat, mereka puasa seperti kami puasa, dan mereka dapat bersedekah dengan kelebihan harta mereka. ”Beliau Shallallahu ‘alaihiwasallam bersabda : “Bukankah Allah telah menjadikan bagi kalian sesuatu yang dapat kalian sedekahkan? Sesungguhnya pada setiap tasbih adalah sedekah, setiap takbir adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, setiap tahlil adalah sedekah, menyuruh kepada yang ma’ruf adalah sedekah, mencegah dari yang mungkar adalah sedekah, dan salah seorang dari kalian bercampur (berjima’) dengan istrinya adalah sedekah.” Mereka bertanya : “Wahai Rasulullah! Apakah jika salah seorang dari kami mendatangi syahwatnya (bersetubuh dengan istrinya) maka ia mendapat pahala di dalamnya?”Beliau menjawab : “Apa pendapat kalian seandainya ia melampiaskan syahwatnya pada yang haram, bukankah ia mendapatkan dosa? Maka demikian pula jika ia melampiaskan syahwatnya pada yang halal, maka ia memperoleh pahala.” [HR. Muslim]

Hadits Abu Dzar di atas menggambarkan hasrat beribadah yang tinggi di kalangan para sahabat. Meski hidup sederhana tidak menghalangi mereka untuk mewujudkan idealisme dalam beribadah.

Seringkali komplitnya sarana dan mudahnya jalan, ketika tidak dibarengi quwwatul iradah (keinginan yang keras), tak akan menghasilkan apa-apa, bahkan sedikit kendala sudah cukup untuk menghentikan langkah meraih pahala. Sebaliknya, meski sarana serba minim dan rintangan begitu besar, namun diiringiquwwatuliradah puncak pahala dapat diraih dan idealisme dalam ibadah bisa terwujud.

Perang Tabuk adalah perang yang terjadi saat berbagi kesulitan menerpa kaum muslimin; cuaca yang panas dan perbekalan yang minim, sehingga disebut dengan perang “Jaisul usrah” (pasukan yang serba kesulitan). Namun sekitar sepuluh ribu sahabat Rasul tetap setia bergerak menuju Tabuk. Saat Rasul dan para sahabat sudah sampai di Tabuk, rasul menanyakan keberadaan sahabatnya Abu Dzar, kata beliau: “Seandainya Allah menghendaki kebaikan pada dirinya, niscaya ia akan datang menemui kita. ”Tidak lama tampak dari kejauhan Abu Dzar membawa seekor keledai yang kurus. Maka bergembira Rasulullah atas kedatangannya. Meski ia harus menghadapi sulitnya perjalanan dan minimnya perbekalan, ditambah tunggangan yang tidak mendukung, namun Abu Dzar tetap memenuhi panggilan jihad bersama rasul, indikasi kerasnya keinginan pada diri Abu Dzar ra.

Demikianlah, para sahabat menjadi contoh bagi kita dalam mengukir prestasi ibadah kepada Allah SWT. Jalan-jalan menuju puncak pahala demikian banyak, tidak peduli kaya atau miskin, dari bangsa arab atau ajam, warna kulit gelap atau terang, semua memiliki peluang yang sama. Bagi yang menanti lonjakan kekayaan untuk melejitkan ibadah, sampaikanlah, kaya pahala tak harus kaya harta. (hsn)