UKHUWAH YANG DINANTIKAN

tolong-menolong dalam kebaikan

GTA (griyatabunganakhirat.com)-Sesama muslim mestilah kita saling tolong-menolong di dalam kebaikan sebagaimana tolong menolong yang telah dicontohkan para sahabat Nabi ﷺ.Seperti yang dijelaskan di bawah ini :

Ketika seseorang telah menerima islam sebagai agamanya, di antara konsekuensi yang melekat atas pilihan itu adalah menerima muslim yang lain sebagai saudara.Al-Muslim akhul muslim, seorang muslim itu saudara bagi muslim yang lain.Bahkan Nabi ﷺ ibaratkan layaknya satu tubuh; jika ada satu luka yang lain turut merasakan deritanya.Rasulullah ﷺ bersabda,

مَثَلُ اْلمُؤْمِنِىنَ فِى تَرَاحُمِهِم وَتَوَادَّهِمْ وَتَعَا طُفِهِم كَمَثَلِ الْجَسَدِ إِذَااشْكَى عَضْوٌتدَاعَى لَهُ سَا ئِرُ جَسَدِهِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan saling berempati bagaikan satu tubuh.Jika salah satu anggotanya merasakan sakit, maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam.” (HR.Bukhari dan Muslim)

Persaudaraan melahirkan sikap ketika iamendapatkan kebahagiaan yang sama.Beegitupun sebaliknya, ia tidak suka ada bahaya menimpa saudaranya sebagaimana ia tak ingin tertimpa malapetaka.Sebagaimana yang disifatkan oleh Nabi ﷺ,

لا ىُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى ىُحِبَّ لأَ خِىهِ مَا ىُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR.Bukhari dan Muslim)

Jangan disangka bahwa semua hal di atas hanyalah teori semata ataupun wacana yang tak pernah terbukti.Allah ﷻ telah menghadirkan teladan nyata untuk senantiasandiikuti.Mereka yang telah luus mewujudkannya adalah para sahabat, generasi terbaik umat ini.

Bagi mereka, menjalankan ukhuwah tidak berbeda dengan menjalankan perintah ketaatan yang lain.Ketika mereka masuk Islam dan harus shalat, merekapun shalat.Ketika datang perintah berzakat, merekapun tidak menundanya.Bahkan ketika perintah hijrah turun, saat mereka harus meninggalkan tanah kelahiran demi menyelamatkan agamanya, merekapun mematuhinya.Begitupun para sahabat Anshar di Madinah yang juga telah masuk Islam, mereka menyambut kedatangan kaum Muhajirin dan menerima mereka sebagai saudara, juga menjadi perwujudan dari ketaatan kepada Allah ﷻ dan Rasul-Nya ﷺ.

Hingga sejarah mencatat, tak ada alasan persaudaraan yang lebih kokoh dari alasan mereka.Tiada persaudaraan yang lebih tulus dan bermanfaat dari persaudaraan mereka.Tiada pula kisah persaudaraan yang lebih indah dari kisah mereka.Meskipun di antara mereka baru saling mengenal dan jauh hubungan nasabnya.

Ketulusan cinta kaum Anshar terhadap Muhajirin yang mengagumkan diabadikan dalam firman Allah ﷻ,

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan)mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka.Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin).” (QS Al-Hasr : 9)

Itulah kecintaan yang tulus karena Allah ﷻ .Cinta kaum Anshar bukan sekedar ucapan pemanis bibir, bukan sekadar slogan pencitraan, akan tetapi cinta yang ketulusannya telah diuji dan dinyatakan lulus oleh Allah ﷻ.

Ketika Sa’ad bin Rabi’ yang dipersaudarakan oleh Nabi ﷺ dengan Abdurrahman bin Auf.Bukan basa-basi ketika beliau memberikan tawaran berupa separuh hartanya untuk diberikan kepada Abdurrahman bin Auf.Pun begitu, Abdurrahman tidak lantas menggunakan aji mumpung supaya mendadak kaya.Beliau berkata, “Semoga Allah ﷻ memberkahimu, dalam harta dan keluargamu, tunjukkan saja kepadaku di mana letak pasar.” Ia pun menunjukkan jalan menuju pasar.Dari situlah kemudian Abdurrahman dikenal sebagai saudagar yang kaya raya.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ketika orang-orang Muhajirin baru tiba di Madinah, mereka biasa mewarisi (harta) orang-orang Anshar, walaupun di antara mereka tidak ada hubungan kekerabatan sedikit pun, hanya karena mereka telah dipersaudarakan oleh Rasulullah ﷺ. Hingga kemudian turunlah ayat yang menghapus kebolehannya, firman Allah ﷻ,

“Dan untuk masing-masing (laki-laki dan perempuan) Kami telah menetapkan para ahli waris atas apa yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya dan karib kerabatnya….” QS An Nisa’ :33)

Bukan hanya barang tidak terpakai atau kebutuhan sisa yang mereka suguhkan kepada saudaranya, bahkan mereka berikan pula sesuatu yang sebenarnya masih dibutuhkan.

Imam Bukhari meriwayatkan, “Ada seseorang yang mendatangi Rasulullah ﷺ (dalam keadaan lapar), lalu beliau mengirim utusan kepada para istri beliau (terkait kesiapan makanan untuk menjamu tamu).Akan tetapi istri-istri Beliau menjawab , “Kami tidak memiliki apapun kecuali air.” Maka Nabi ﷺ memberikan tawaran kepada para, “Siapakahbdi antara kalian yang berkenan menjamu tamu ini ?” Salah seorang Anshar menyahut, “Saya.” Lalu ia membawa tamu tadi ke rumah.Ketika itu ia berkata kepada istrinya, “Muliakanlah tamu Rasulullah ﷺ!” Istrinya menjawab, “Kita tidak memiliki makanan selain sebatas untuk keluarga.” Orang Anshar itu berkata, “Hidangkanlah makanan itu untuk tamu, nyalakanlah lampu dan tidurkanlah anak-anak!” Wanita itu pun menyiapkan makanan, menyalakan lampu, dan menidurkan anak-anaknya.Dia lalu bangkit, seakan hendak memperbaiki lampu dan memadamkannya.Sementara orang Anshar itu mengesankan seolah ikut makan saat lampu mati (agar tamu tidak sungkan untuk makan).Setelah itu mereka tidur dalam keadaan lapar, sedangkan tamunya kenyang.Keesokan harinya, ketika sang suami bertemu Rasulullah ﷺ Beliau bersabda, “Semalam Allah ﷻ tertawa takjub dengan apa yang kalian berdua lakukan.” Lalu Allah  ﷻ menurunkan ayat-Nya,

“Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).” (QS Al-Hasyr :9)

Simak pula kisah indah yang diriwayatkan oleh al-Baihaqi dalam Asy Syu’ab dari Ibnu Umar r.a berkata, “Salah seorang dari sahabat Nabi ﷺ diberi hadiah kepala kambing, lalu dia bergumam, “Sesungguhnya fulan dan keluarganya lebih membutuhkan ini daripada kami.” Ibnu Umar mengatakan, “Maka ia kirimkan hadiah tersebut kepada yang lain, dan secara terus menerus hadiah itu dikirimkan dari satu orang kepada yang lain hingga berputar sampai tujuh rumah, dan akhirnya kembali kepada orang yang pertama kali memberikan.”

Saking semangatnya berkhidmat untuk saudaranya, terkadang mereka lupa menyisihkan untuk dirinya.Seperti Ibunda kita, Aisyah r.a .Beliau pernah mendapat uang 40.000 dirham dari baitul mal.Uang itu kemudian seger dibagi-bagikan kepada fakir miskin sampai-sampai lupa menyisihkan sedikit untuk dirinya.Ummu Burdah yang kala itu membantu membagikannya berkata, “Wahai ummul mukminin, kenapa tidak engkau sisihkan sedikit saja untuk membeli makanan berbuka, bukankah engkau sedang berpuasa?” Maka Beliau menjawab, “Wahai Ummu Burdah, mengapa tidak kau ingatkan aku tadi.”

Tak hanya dalam kondisi longgar mereka berlaku itsar atau mengutamakan saudaranya.Bahkan pada saat nyawa terancam, mereka masih sempat mengutamakan saudaranya.

Ibnu Abdi Barr dalam at-Tamhid meriwayatkan dari Abdullah bin Mush’ab Az-Zubaidi dan Hubaibbin Abi Tsabit mengisahkan, “Telah syahid pada perang Yarmuk al-Harits bin Hisyam, Ikrimah bin Abu Jahal dan Suhail bin Amr.Ketika itu ditawarkan minuman kepada mereka yang terluka dan kritis, namun semuanya menolak demi mendahulukan sahabatnya.Dalam versi lain perawi menceritakan, “Ikrimah meminta air minum, kemudian ia melihat Suhail sedang memandangnya, maka Ikrimah berkata, “Berikan air itu kepadanya.” Ketika itu Suhail juga tahu al-Harits sedang melihatnya maka ia pun berkata, “Berikan air itu kepadanya (al-Harits).”Namun belum sampai air itu kepada al-Harits, ternyata ketiganya telah syahid tanpa sempat merasakan air itu sedikit pun.

Jika demikian keadaan para sahabat yang bersaudara karena Allah ﷻ tanpa terhubung nasab, lantas bagaimana dengan kuatnya persaudaraan dua sahabat yang terikat nasab sekaligus terikat sebagai saudara muslim? Tentu lebih hebat lagi.

Diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar bahwa suatu kali Umar bin Khattab menyuruh saudaranya, Zaid bin Khattab agar memakai baju besinya ketika Perang Uhud.Zaid pun memakainya, tetapi serasa ingat sesuatu, ia kemudian melepasnya lagi.Umar pun bertanya kepadanya, “Mengapa kau lepas baju besi itu ?” Dan Zaid menjawab, “Aku menghendaki terhadap diriku sebagaimana yang engkau kehendaki dirimu.”Yakni ingin syahid dan saudaranya selamat.

Allahu Akbar, inilah akhlak generasi terbaik sepanjang masa, inilah teladan yang dibutuhkan era kini.Saat kedekatan hanya dibangun di atas manfaat semu; kepentingan harta atau sekedar mencari gengsi.Semoga Allah ﷻ kuatkan ikatan kaum muslimin seiring dengan dikuatkannya keimanan mereka, wallahu a’lam bishawab.(Abu Umar Abdullah/ www.arrisalah.net)