Analisis Ringkas Status Harta Riba

bahaya_riba_8Hari ini banyak sekali kita jumpai muamalah yang tidak lepas dari unsur riba. Ini memang salah satu tanda akhir zaman seperti dikabarkan oleh Nabi saw, “Akan datang pada manusia suatu waktu, setiap orang tanpa kecuali akan makan riba, orang yang tidak makan langsung, pasti terkena debu-debunya.” (HR Abu Dawud, Ibnu Majah dan Al-Baihaqi)

Namun, alhamdulillah, sebagian umat Islam sudah menyadari hukumnya dan menghindarinya. Untuk mendukung arah yang baik ini, kami mengumpulkan catatan ringkas dari para ulama berkaitan harta riba:

1.Pelaku baru tahu perniagaannya ribawi:

a.Harta ribawi yang telah berlalu

Syaikh Utsaimin mengatakan, “Jika seseorang telah memanfaatkan harta riba karena tidak tahu bahwa itu riba dan tidak tahu bahwa bisnisnya itu haram, maka taubat akan menutupi kesalahan sebelumnya dan riba tersebut (sebelum datang larangan) telah menjadi miliknya. Hal ini berdasarkan firman Allah:

فَمَن جَاءهُ مَوْعِظَةٌ مِّن رَّبِّهِ فَانتَهَىَ فَلَهُ مَا سَلَفَ

Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan).’ (QS. Al Baqarah: 275).

Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di r.a. berkata, “Allah Ta’ala tidak memerintahkan seseorang untuk mengembalikan harta yang didapatkan dengan akad riba setelah bertaubat. Allah hanya memerintah mengembalikan harta riba yang belum dia pegang karena orang yang bertaubat dari riba ini hanyalah mengambil harta dengan ridha pemilik harta itu. Oleh karena itu, hal ini tidak sama dengan barang rampasan. Pada ketentuan ini, terdapat keringanan dan anjuran untuk bertaubat, yang bentuknya tidak seperti pernyataan bahwa taubatnya baru bisa diterima bila dia mengembalikan seluruh transaksi yang telah berlalu, bagaimanapun banyak dan beratnya transaksi tersebut.”

Dr. Wahbah Az-Zuhaili mengatakan, “Siapa yang mendapatkan ilmu tentang haramnya riba, lalu ia berhenti dari bisnisnya yang ribawi, maka hasil riba pada masa ketidaktahuannya itu menjadi miliknya.” (Al-Munir, III: 87).

b.Harta ribawi yang masih di tangan orang lain

Pelaku hanya boleh mengambil harta pokoknya saja dan merelakan bunga yang sudah disepakati. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kalian orang-orang yang beriman.” (Al-Baqarah: 278). “Jika kalian bertaubat (dari pengambilan riba), bagimu pokok harta kalian. Kalian tidak menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.” (Al-Baqarah: 279).

Bila yang bertaubat dari pihak peminjam, langkah pertama adalah menyampaikan kepada pemilik harta (kreditor) tentang ilmu ini.

2.Pelaku sudah tahu hukumnya namun masih melakukan atau terlibat dalam muamalah ribawi:

Pada dasarnya, menyimpan uang dan bermuamalah dengan bank ribawi dilarang oleh syariat. Hanya keadaan darurat yang membolehkan. Syaikh Utsaimin berpendapat, boleh menyimpan uang di bank ribawi dalam kondisi darurat. (Fatawa Al-Buyu’, 74).

Abu Bakar Al-Jazairi menyatakan hal yang sama bila tranksaksi keuangan tidak bisa dilakukan selain dengan itu. (lihat Minhajul Muslim). Artinya, haram menyimpan uang di bank denga niat mendapatkan bunganya.

Dalam kondisi ini, seluruh harta yang dia dapatkan tidak terhitung ke dalam kepemilikannya. Kewajiban dia adalah berlepas diri dari harta tersebut dan menyalurkan harta itu pada mashlahat kaum muslimin yang bersifat umum atau menyedekahkan harta itu pada amalan-amalan kebaikan. Hal ini berdasarkan pemahaman dari kandungan surah Al-Baqarah ayat ke-275 dan beberapa dalil lain. Al-Lajnah Daimah menyebutkan, “Apabila saat menghasilkan harta haram itu, orang yang bersangkutan mengetahui keharamannya, harta itu tidak halal baginya ketika dia bertaubat. Bahkan, dia wajib berlepas diri dari harta haram tersebut dengan cara menginfakkan pada amal kebaikan.” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Da`imah, XIV:32)

3.Apakah harta riba boleh dibuang begitu saja?

Syaikh Jibrin menjawab, “Perbuatan itu merupakan penyia-nyiaan harta yang bertentangan dengan kaidah syar’i. Hal itu karena harta haram itu bukan milik siapa pun. Bukan milik bank maupun nasabah. Ia milik kepentingan umum. Beginilah kedudukan harta haram.”

4. Apakah boleh membiarkan saja di Bank karena tahu uang itu haram?

Syaikh bin Baz menjawab, “Jangan engkau serahkan kepada Bank dan juga jangan engkau makan. Tetapi alihkanlah untuk kebajikan, misalnya disedekahkan kepada fakir miskin, membangun WC, melunasi orang yang tidak mampu membayar hutang.” (Fatawa Al-Islamiyah, II: 407). Di Mu’tamar Fikih V yang diadakan di India, ditambahkan bahwa pemanfaatan itu, sedekah kepada fakir misalnya, tidak boleh dengan niat mengharap pahala. Artinya, bukanlah termasuk sebagai sedekah sunnah, atau bahkan wajib, melainkan sebagai pembebasan diri dari apa yang diharamkan oleh Allah.

Tambahan:

Syaikh Utsaimin juga berfatwa, yang maksudnya barangkali perlu diteliti lagi. Beliau mengatakan, “Jika seseorang telah mengambil riba tersebut dan dia mengetahui bahwa riba tersebut haram, namun dia adalah orang yang lemah dalam hutang dan sedikit ilmu, dia boleh bersedekah dengan riba tersebut. Bisa saja dia manfaatkan untuk membangun masjid. Jika dia adalah orang yang tidak mampu melunasi hutangnya, uang itu boleh untuk melunasi hutangnya. Bila berkehendak, boleh juga diserahkan pada kerabatnya yang membutuhkan. Ini semua adalah baik.” (Liqa’ Al Bab Al Maftuh, 109/9). Wallahu a’lam.

Ditulis oleh Ibnu Yaman