KERUGIAN SIFAT BAKHIL

GTA(griyatabunganakhirat.com)-Bakhil merupakan sifat tidak terpuji.Seseorang yang mempunyai sifat bakhil akan mengakibatkan kerugian kelak di kemudian hari.Apakah kerugian dari sifat bakhil?Marilah kita simak tulisan di bawah ini :

KERUGIAN SIFAT BAKHIL

إِنَّا بَلَوْنَاهُمْ كَمَا بَلَوْنَا أَصْحَابَ الْجَنَّةِ إِذْ أَقْسَمُوا لَيَصْرِمُنَّهَا مُصْبِحِينَ وَلَا يَسْتَثْنُونَ فَطَافَ عَلَيْهَا طَائِفٌ مِنْ رَبِّكَ وَهُمْ نَائِمُونَ فَأَصْبَحَتْ كَالصَّرِيمِ فَتَنَادَوْا مُصْبِحِينَ أَنِ اغْدُوا عَلَى حَرْثِكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَارِمِينَ فَانْطَلَقُوا وَهُمْ يَتَخَافَتُونَ أَنْ لَا يَدْخُلَنَّهَا الْيَوْمَ عَلَيْكُمْ مِسْكِينٌ

  “Sesungguhnya Kami telah mencobai mereka (musyrikin Mekah) sebagaimana Kami telah mencobai pemilik-pemilik kebun, ketika mereka bersumpah bahwa mereka sungguh-sungguh akan memetik (hasil)nya di pagi hari, dan mereka tidak mengucapkan insyaa Allah, lalu kebun itu diliputi malapetaka (yang datang) dari Rabbmu ketika mereka sedang tidur, maka jadilah kebun itu hitam seperti malam yang gelap gulita. lalu mereka panggil memanggil di pagi hari. Pergilah di waktu pagi (ini) ke kebunmu jika kamu hendak memetik buahnya. Maka pergilah mereka saling berbisik-bisikan. Pada hari ini janganlah ada seorang miskinpun yang masuk ke dalam kebunmu”.

(QS. al-Qalam: 17-24)

 

Ibnu katsier menyebutkan dari Sa’id bin Jabir rahimahullah bahwa para pemilik kebun yang dikisahkan dalam ayat tersebut tinggal di desa Dhurwan yang jaraknya 6 mil dari Shana’a. Ada pula yang berpendapat mereka adalah penduduk negeri Habasyah. Yang jelas bapak mereka adalah seorang petani yang mewariskan kebun itu untuk mereka. Mereka termasuk kalangan ahlul kitab (Sebelum diutusnya Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam).

Bapak mereka adalah orang yang memiliki rekam jejak yang baik dalam hidupnya. Dia menggunakan hasil kebunnya untuk modal perawatan kebunnya, sebagiannya lagi disimpan untuk kebutuhan makan keluarganya selama setahun, dan sisanya untuk disedekahkan.

Kemudian, tatkala dia telah wafat, maka kebunnya diwariskan kepada mereka selaku ahli warisnya. Namun mereka memiliki sikap berbeda dengan ayahnya. Bahkan mereka berkata, “Bapak kita telah berbuat bodoh dan keliru karena telah memberikan sisa panen kebun untuk disedekahkan kepada orang-orang fakir. Sekiranya kita tidak memberikan sisa panen kebun kita kepada orang-orang fakir tentunya harta kita akan melimpah.”

Dengan sifat tamak tersebut, mereka bertekad untuk tidak memberikan sisa panen kebun kepada orang-orang fakir.

Mereka lupa bahwa anugerah yang Allah berikan kepada orangtua mereka itu lantaran sedekah yang ditunaikannya. Ketika kebiasaan baik orangtua mereka yang suka berderma itu diganti dengan kebakhilan, maka dicabutlah anugerah tersebut.

Maka Allah azza wa jalla menggagalkan maksud dan rencana mereka. Allah lenyapkan semua hasil panen yang sudah hampir di tangan dan di depan mata.

Apa yang Allah kisahkan dalam al-Qur’an, bukan sekedar untuk dinikmati alurnya. Akan tetapi mengandung peringatan bagi orang-orang yang bertindak semisal yang tersebut dalam kisah, maka akan mengalami akibat yang serupa.

Sisi cela yang dimiliki oleh para pemilik kebun itu adalah kelalaian mereka terhadap kehendak dan kekuasaan Allah. Seakan penentu rejeki adalah hasil kerja kerasnya semata. Hingga ketika dalam perhitungan mereka masa panen telah datang, merekapun berencana dengan perencanaan seakan tak ada apa atau siapapun yang menghalangi panen raya. Merekapun tidak mengucapkan kata ‘insya Allah’ (jika Allah menghendaki). Mereka lupa bahwa sehebat apapun perhitungan, perencanaan maupun ikhtiar manusia takkan terwujud jika Allah tak menghendaki. Allah Ta’ala berfirman,

 

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَن يَشَاءَ اللَّـهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Rabb semesta alam.” (QS at-Takwir 29)

Karena kelalaian terhadap kehendak dan kekuasaan Allah, mereka juga mengandalkan perhitungan logis semata, bahwa dengan menahan pemberian kepada si fakir maka hitungan hasilnya lebih banyak daripada jika dikurangi dengan sedekah. Padahal, Allah telah menjadikan sedekah sebagai salah satu wasilah untuk datangnya rejeki dan karunia. Dan bahwa sifat tamak tak akan menambah kekayaan dan bahkan kebakhilan menjadi penyebab kebangkrutan. Sebagaimana yang dikabarkan oleh Nabi shallallahu alaihi wasallam,

 

مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ العِبَادُ فِيهِ، إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلاَنِ، فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا “

“Tiada datang pagi hari atas manusia melainkan ada dua malaikat turun, di mana salah dari keduanya berdoa, “Ya Allah berilah ganti (yang lebih baik) bagi orang yang berinfak,  dan yang kedua berdoa, “Ya Allah buatlah bangkrut  orang yang menahan pemberian.” (HR. Bukhari)

Imam Muslim meriwayatkan dalam Shahih-nya, “Ketika seorang laki-laki berada di tempat yang sunyi, dia mendengar suara awan, ‘Siramilah kebun fulan.’ Lalu awan itu berjalan dan menumpahkan airnya di tanah yang banyak bebatuan hitam. Ternyata ada saluran air yang telah dipenuhi oleh air hujan. Laki-laki itu menelusuri jalannya air. Ternyata ada seorang laki-laki yang berdiri di kebunnya, dia mengalirkan air dengan cangkulnya. Dia bertanya, “ Wahai hamba Allah, siapa namamu?” Dia menjawab, “Fulan.” Nama itulah yang didengarnya dari suara awan.

Petani itu balik bertanya, “Wahai hamba Allah, mengapa kamu bertanya tentang namaku?” Dia menjawab, “Sesungguhnya aku mendengar suara di awan yang telah tumpah airnya di sini. Suara itu berkata, “Siramilah kebun Fulan!” Apa sebenarnya yang Anda  lakukan?”

Dia menjawab, “Tentang pertanyaan Anda itu, saya memiliki kebiasaan ketika panen hasil kebunku. Sepertiganya aku sedekahkan, sepertiganya lagi aku makan bersama keluargaku, dan sepertiga siasanya aku kembalikan kembali (untuk menanam).” (HR. Muslim)

Maka tak ada cara mendatangkan keberkahan rejeki melebihi tawakal kepada Allah dan menggunakan cara-cara yang Allah kehendaki semisal sedekah. Semoga Allah memudahkan rejeki kita dan memberkahinya. Aamiin.

 

Kultum Ramadhan/Majalah ar-risalah/Ust. Abu Umar Abdillah