KEWAJIBAN MUSLIMIN TERHADAP ANAK YATIM

Ditinggalkan oleh orang tua yang menyayangi kita tentulah menjadi kesedihan yang mendalam.Apatah lagi jika yang ditinggalkan masih kecil dan belum bisa mandiri atau tidak bisa berdiri sendiri.Karenanya Islam sangat menaruh perhatian besar kepada anak yatim

Siapakah yang dimaksud  dengan anak yatim?Kata ‘yatim’ berasal dari bahasa Arab.Yang artinya anak kecil yang kehilangan ayahnya karena meninggal dunia.Terdapat batasan bagi seseorang yang disebut anak yatim.Tidaklah disebut anak yatim lagi jika sudah baligh/dewasa.Sebagaimana penjelasan Rasulullah ﷺ dalam sebuah hadits: “Tidak ada keyatiman setelah mimpi.” (HR Abu Daud).Mimpi di dalam hadits tersebut adalah “mimpi basah” atau isyarat baligh/dewasa.

Sedangkan anak yang ditinggal meninggal oleh ibunya disebut ‘ajiyy/’ajiyyah atau dalam bahasa Indonesianya disebut “piatu”.Bila ditinggal meninggal oleh ayah dan ibunya disebut “yatim piatu”.

Tentang anak yatim tercatat dalam beberapa ayat Al Qur’an, sehingga perhatian dan kedudukannya pun besar.Ada kewajiban kita umat Muslim terhadap anak yatim dan piatu.Kita janganlah menghina dan memperlakukan semena-mena ataupun menghardiknya.

Apakah kewajiban umat Muslim terhadap anak yatim?Al Qur’an menjelaskan perintah dan kewajiban umat Muslim terhadap anak yatim.Dikutip dari buku ‘Mari Mencintai Anak Yatim’ oleh Drs. Muhsin  M.K,S.Ag, MSc, berikut ulasannya :

·         Berbuat baik

       وَٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَلَا تُشۡرِكُواْ بِهِۦ شَيۡ‍ٔٗاۖ وَبِٱلۡوَٰلِدَيۡنِ إِحۡسَٰنٗا وَبِذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡيَتَٰمَىٰ وَٱلۡمَسَٰكِينِ وَٱلۡجَارِ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَٱلۡجَارِ ٱلۡجُنُبِ وَٱلصَّاحِبِ بِٱلۡجَنۢبِ وَٱبۡنِ ٱلسَّبِيلِ وَمَا مَلَكَتۡ أَيۡمَٰنُكُمۡۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُحِبُّ مَن كَانَ مُخۡتَالٗا فَخُورًا 

 

“Dan berbuat baiklah kepada ibu-bapak, karib-kerabat dan anak-anak yatim.” (QS.An-Nisaa: 36)

Ayat ini memerintahkan kita untuk selalu berbuat baik pada anak yatim. Termasuk memberikan ketenangan dan kesejahteraan bagi hidup mereka. Perlakuan baik akan membantu meringankan beban serta meningkatkan semangat hidup anak yatim.

·          Memuliakan anak yatim

Memuliakan anak yatim juga wajib dilakukan oleh sesama umat muslim, sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur’an:

كَلَّاۖ بَل لَّا تُكۡرِمُونَ ٱلۡيَتِيمَ 

“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim.” (QS.Al-Fajr: 17)

Anak yatim tidak boleh dihina, apalagi direndahkan. Hindari berkata kasar dan menyinggung perasaannya, karena ini tidak disukai oleh Allah ﷻ. Terlebih berperilaku kasar dan sampai memukul, ini dapat membuat anak yatim semakin merasa terpuruk.

·         Mengurus secara patut dan adil

Orang tua asuh maupun mereka penanggung jawab panti asuhan perlu mengurus anak yatim secara patut dan adil. Dengan demikian, hidup para anak yatim ini tidak terlantar. Ingat bahwa mereka juga memiliki hak untuk hidup dengan sebaik-baiknya seperti anak lain.

·         Tidak membedakan dan menganggap seperti saudara

Allah ﷻ juga memerintahkan umat muslim untuk bersikap peduli terhadap anak yatim, termasuk dengan menganggapnya seperti saudara sendiri. Sikap seperti ini diharapkan dapat membuat anak yatim merasa diterima dan tidak diasingkan.

·         Memberi harta dan makanan

Anak yatim yang hidup miskin dan tidak memiliki harta warisan peninggalan orang tua perlu diberikan bantuan, termasuk dalam bentuk makanan. Mereka juga perlu mendapatkan kelayakan dalam hidup. Ini terutama wajib bagi sesama umat muslim yang berkecukupan. 

“… dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim….” (Al-Baqarah: 177)

·         Memperbaiki rumah

Rumah menjadi salah satu kebutuhan utama manusia, terutama untuk hidup dan berlindung dari dunia luar. Nah, hal ini juga berlaku pada anak-anak yatim, Bunda. Perilaku terpuji ini dicontohkan oleh Nabi Khidr alaihissalam ketika Nabi Musa alaihissalam mengikutinya untuk berguru.

·         Melindungi harta anak yatim

Jika anak yatim memiliki harta peninggalan orang tua, sesama umat muslim (terlebih yang memiliki amanah), wajib memelihara dan melindungi harta benda tersebut. Menjadi dosa apabila yang dilakukan justru menggunakan harta yang bukan haknya. 

Bahkan dalam Al Qur’an ditegaskan larangan untuk mendekati harta anak yatim, apalagi mengambilnya.

وَلَا تَقۡرَبُواْ مَالَ ٱلۡيَتِيمِ إِلَّا بِٱلَّتِي هِيَ أَحۡسَنُ حَتَّىٰ يَبۡلُغَ أَشُدَّهُۥۚ وَأَوۡفُواْ بِٱلۡعَهۡدِۖ إِنَّ ٱلۡعَهۡدَ كَانَ مَسۡ‍ُٔولٗا 

“Dan janganlah kamu mendekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih baik..” (Al-Israa’: 34)

Dikutip dari buku Keajaiban Menyantuni Anak Yatim oleh Mujahidin Nur, disebutkan bahwa di antara kelompok orang-orang lemah (kaum dhuafa), anak yatim selalu menduduki urutan nomor satu. Maka dari itu, tak heran jika Al-Qur’an menyebutkan kata yatim sebanyak 23 kali.

Ya, berbuat baik pada anak yatim menjadi salah satu tanda orang beriman, bertakwa dan memiliki kemuliaan hati. 

Beberapa ganjaran baik dari Allah ﷻ bagi orang yang memerhatikan dan menyantuni anak yatim beragam, di antaranya mendapat pahala berlipat ganda, memiliki rezeki lapang, memperoleh kecukupan dan dimasukkan dalam golongan orang beriman serta bertakwa.

Demikian ulasan tentang perintah dan kewajiban sesama umat muslim terhadap anak yatim sebagaimana tercantum dalam Alquran. Yuk perbanyak pahala dengan berbuat baik pada anak yatim.

(sumber: dari berbagai sumber)