PELAJARAN BERHARGA DARI KISAH MBAK RUMINI GUNUNG SEMERU

Belum lama ini kita berduka akan musibah erupsi gunung Semeru di Lumajang, Jawa Timur.Banyak korban jiwa dan harta benda yang dialami oleh saudara-saudara kita di sana.Sudah selayaknya kita ikut membantu meringankan penderitaan mereka di sana sesuai dengan kadar kemampuan kita.Di antara kisah erupsi gunung Semeru, terdapat satu pelajaran yang kita ambil hikmahnya.Yaitu dari kisah Mbak Rumini dan ibunya (Ibu Salamah).Di sana kita bisa mengambil pelajaran tentang “birrul walidain”.

Berikut ini sepenggalan percakapan Mbak Rukmini dengan ibunya “

“Tidak Ibu, raga ini bisa lari tapi hati ini tidak bisa, Saya tidak tega meninggalkan Ibu sendirian.” Kata Mbak Rumini.Ibu dan anak meninggal dalam keadaan berpelukan (korban meninggal gunung Semeru).

Itulah sebagian kutipan percakapan Mbak Rumini korban gunung Semeru dengan ibunya yang cukup viral di media sosial.

Dari kisah tersebut kita mendapatkan pelajaran tentang “birrul walidain”.Di saat-saat genting erupsi gunung Semeru.Mbak Rumini tetap menjaga Ibunya untuk yang terakhir kalinya.Ibunya yang tidak bisa lari menyelamatkan diri dari erupsi gunung Semeru, tetap ia jaga Ibunya.

Surga memiliki beberapa pintu, dan salah satunya adalah pintu birrul walidain.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الوالِدُ أوسطُ أبوابِ الجنَّةِ، فإنَّ شئتَ فأضِع ذلك البابَ أو احفَظْه

“Kedua orangtua itu adalah pintu surga yang paling tengah. Jika kalian mau memasukinya maka jagalah orangtua kalian. Jika kalian enggan memasukinya, silakan sia-siakan orang tua kalian.” (HR Tirmidzi, ia berkata: “hadits ini shahih”, dishahihkan Al Albani dalam Silsilah Ash Shahihah No. 914).

Salah satu perintah Allah Ta’ala untuk hamba-Nya adalah perintah untuk birrul walidain. Birrul walidain artinya berbakti kepada orang tua. Birrul walidain adalah hal yang diperintahkan dalam agama. Oleh karena itu bagi seorang muslim, berbuat baik dan berbakti kepada orang tua bukan sekedar memenuhi tuntunan norma susila dan norma kesopanan, namun yang utama adalah dalam rangka menaati perintah Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman:

وَاعْبُدُوا اللَّهَ وَلَا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua” (QS. An Nisa: 36).

Perhatikanlah, dalam ayat ini Allah Ta’ala menggunakan bentuk kalimat perintah. Allah Ta’ala juga berfirman:

قُلْ تَعَالَوْا اَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ اَلَّا تُشْرِكُوْا بِهٖ شَيْـًٔا وَّبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسَانًاۚ

“Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang tua..” (QS. Al An’am: 151).

Dalam ayat ini juga digunakan bentuk kalimat perintah. Allah juga berfirman:

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya” (QS. Al Isra: 23).

Di sini juga digunakan bentuk kalimat perintah. Birrul walidain juga diperintahkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika beliau ditanya oleh Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

أيُّ العَمَلِ أحَبُّ إلى اللَّهِ؟ قالَ: الصَّلاةُ علَى وقْتِها، قالَ: ثُمَّ أيٌّ؟ قالَ: ثُمَّ برُّ الوالِدَيْنِ قالَ: ثُمَّ أيٌّ؟ قالَ: الجِهادُ في سَبيلِ اللَّهِ قالَ: حدَّثَني بهِنَّ، ولَوِ اسْتَزَدْتُهُ لَزادَنِي

“Amal apa yang paling dicintai Allah ‘Azza Wa Jalla?”. Nabi bersabda: “Shalat pada waktunya”. Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Lalu apa lagi?”.Nabi menjawab: “Lalu birrul walidain”. Ibnu Mas’ud bertanya lagi: “Lalu apa lagi?”. Nabi menjawab: “Jihad fi sabilillah”. Demikian yang beliau katakan, andai aku bertanya lagi, nampaknya beliau akan menambahkan lagi (HR. Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian kita ketahui bahwa dalam Islam, birrul walidain bukan sekedar anjuran, namun perintah dari Allah dan Rasul-Nya, sehingga wajib hukumnya. Sebagaimana kaidah ushul fiqh, bahwa hukum asal dari perintah adalah wajib.

Semoga kita masih diberikan waktu untuk “birrul walidain” berbakti kepada kedua orang tua kita.Dengan berbuat baik kepadanya, menjaga dan merawatnya, dan berusaha untuk membuat senang hati kedua orang tua kita.Dan jika keduanya sudah tiada, kita masih tetap mendo’akan keduanya.Wallahu a’lam.